Kamis, 30 Januari 2025

,

Sebuah Perjalanan Menemukan Kedamaian dalam Kesulitan

Hidup seringkali membawa kita pada momen-momen yang tak terduga. Terkadang, di saat kita merasa terjatuh dan kehilangan arah, justru di situlah kita menemukan sesuatu yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Bagi saya, momen itu terjadi ketika saya pertama kali mengenal Tao melalui sebuah buku peninggalan papa saya.


Pertemuan Pertama dengan Tao

Buku itu berjudul "Dasar-Dasar Tao", dan meskipun terlihat sederhana, isinya menyimpan kebijaksanaan yang dalam. Saat itu, sekitar setahun yang lalu, saya sedang berada di titik terendah dalam hidup. Kesehatan saya memburuk, hubungan keluarga sedang tidak harmonis, dan depresi seakan menjadi teman sehari-hari. Saya merasa terjebak dalam kegelapan, tanpa tahu bagaimana cara keluar dari situasi itu.


Suatu hari, tanpa sengaja, saya menemukan buku itu di antara tumpukan buku-buku lama papa. Seingat saya, papa sering membacanya, tapi saya sendiri belum pernah benar-benar memperhatikannya. Entah mengapa, saat itu saya merasa tertarik untuk membukanya. Mungkin itu adalah cara semesta membimbing saya.



Manusia dan Energi Alam

Saya mulai membaca, dan perlahan-lahan, kata-kata dalam buku itu mulai menyentuh hati saya. Tao, yang berarti "Jalan", mengajarkan tentang kesederhanaan, keseimbangan, dan harmoni dengan alam semesta. Salah satu pelajaran utama yang saya dapatkan dari buku itu adalah bahwa kita, sebagai manusia, adalah bagian dari energi alam. Kita tidak hidup dalam ruang hampa; segala sesuatu di sekitar kita—alam, orang lain, bahkan tindakan kita sendiri—adalah elemen yang saling memengaruhi.


Buku itu menjelaskan bahwa tindakan kita saat ini hanyalah satu elemen kecil dalam jaringan besar kehidupan. Meskipun kita bisa menentukan arah perjalanan hidup kita, berpegang teguh pada hasil di masa depan adalah hal yang sia-sia. Masa depan tidak pernah pasti, dan terlalu fokus pada hasil justru bisa membuat kita kehilangan kebahagiaan saat ini. Sebaliknya, kita diajarkan untuk fokus pada apa yang bisa kita kendalikan—yaitu tindakan dan niat kita di saat ini.



Hidup Seperti Bibit yang Tumbuh

Selain itu, buku itu juga menggambarkan kehidupan manusia seperti bibit yang ditanam. Ketika kita lahir, kita seperti bibit yang memiliki potensi bawaan masing-masing. Tugas kita bukanlah membandingkan diri dengan orang lain atau berusaha menjadi sesuatu yang bukan diri kita, melainkan tumbuh sebaik mungkin sesuai dengan potensi yang kita miliki.

Misalnya, jika kita adalah bibit beringin, tugas kita adalah menjadi beringin terbaik yang kita bisa. Jika kita adalah bibit jagung, tugas kita adalah menjadi tanaman jagung terbaik. Tidak ada gunanya bibit jagung ingin menjadi beringin, atau beringin ingin menjadi jagung. Setiap bibit memiliki keunikan dan tujuan tumbuhnya sendiri. Begitu pula dengan manusia—kita masing-masing memiliki jalan hidup yang berbeda, dan membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat kita kehilangan esensi diri kita sendiri.



Menerima Diri dan Menemukan Kedamaian

Prinsip ini sangat membebaskan bagi saya. Selama ini, saya sering terjebak dalam perbandingan dengan orang lain, merasa tidak cukup baik, atau berusaha menjadi sesuatu yang bukan diri saya. Namun, melalui ajaran Tao, saya belajar untuk menerima diri saya apa adanya dan fokus pada pertumbuhan pribadi. Saya menyadari bahwa hidup bukanlah kompetisi, melainkan perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Membaca buku itu menjadi semacam terapi bagi saya. Setiap kali saya merasa putus asa, saya kembali membuka halaman-halamannya, mencari petunjuk atau sekadar merenungkan kata-katanya. Perlahan-lahan, saya mulai merasa lebih tenang. Saya belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, untuk menerima keadaan apa adanya, dan untuk percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan pada waktunya.



Tao sebagai Panduan Hidup

Tao mengajarkan saya bahwa hidup ini seperti sungai—kadang tenang, kadang deras, tapi selalu mengalir. Kita tidak perlu melawannya, cukup ikuti arusnya dengan penuh kesadaran. Prinsip ini membantu saya melewati masa-masa sulit itu. Kesehatan saya perlahan membaik, hubungan dengan keluarga mulai pulih, dan saya merasa lebih damai dengan diri sendiri.

Sekarang, Tao bukan sekadar filosofi yang saya baca dari buku. Ia telah menjadi bagian dari hidup saya, sebuah panduan yang membantu saya memahami kompleksitas kehidupan dengan lebih bijaksana. Saya bersyukur bisa menemukan buku itu di saat yang tepat, seolah-olah papa mengirimkannya sebagai hadiah untuk membantu saya bangkit dari keterpurukan.



"Ketika aku melepaskan apa yang aku miliki, aku menjadi apa yang mungkin aku miliki." ~ Laozi



Apakah Anda pernah merasa terjebak dalam perbandingan dengan orang lain? Bagaimana cara Anda keluar dari perasaan itu? Mari renungkan bersama, karena setiap dari kita memiliki jalan hidup yang unik dan berharga.


Jika ada satu hal yang saya pelajari dari perkenalan saya dengan Tao, itu adalah bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada pelajaran dan kesempatan untuk tumbuh. Dan terkadang, jawaban yang kita cari sudah ada di depan mata, hanya menunggu saat yang tepat untuk ditemukan.



Jika artikel ini bermanfaat, jangan lupa untuk membagikannya ke teman-teman Anda! Mari kita sebarkan kebijaksanaan dan kedamaian bersama-sama.


Apakah Anda juga pernah menemukan sesuatu—sebuah buku, filosofi, atau pengalaman—yang mengubah cara pandang Anda terhadap hidup? Bagikan cerita Anda di kolom komentar!

Senin, 05 Agustus 2024

Kamis, 09 Mei 2024

Apakah menjadi orang baik cukup?

 Memberi makan seseorang adalah hal baik, namun memberi makan pada orang yang kenyang kita akan mendapat penolakan, kemarahan atau makian.

Seberapa sering kita mendengarkan ajaran disekitar kita mengenai kebaikan, bagaimana kita harus baik kepada orang orang, orang tua, orang disekitar kita, orang yang membutuhkan bantuan, dalam bencana, dan lainnya. Hal mengenai kebaikan ini diajarkan oleh orang tua kita sejak kecil, disekolah, dalam ajaran ajaran agama, dimana mana; sayapun mengalami hal yang sama, sejak kecil banyak diajarkan mengenai kebaikan, bagaimana saya tidak boleh menyakiti, tidak boleh menyusahkan, tidak boleh mempersulit, dan lainnya.

Tentu hal ini tidak salah, adalah hal benar untuk diajarkan. Namun, apakah menjadi orang baik saja cukup?

Seiring berjalan waktu, semakin umur bertambah, saya menyadari bahwa "baik" saja tidak cukup; karena baik bisa berubah / relatif terhadap seseorang, untuk itu ada 1 hal penting yang juga dibutuhkan yaitu "bijak" agar kebaikan bisa mengarah ke arah yang tepat, karena suatu tindakan menjadi benar benar baik jika dilakukan pada waktu, tempat dan objek yang tepat. Untuk menentukan waktu, tempat dan objek yang tepat inilah diperlukan kebijaksanaan.

Ambil contoh sederhana, adalah makanan -- memberikan makan kepada orang yang kelaparan, maka orang tersebut akan sangat berterima kasih; berbeda halnya jika kita memberikan makan kepada orang yang kenyang, maka orang tersebut akan memberikan respon yang berbeda.

Saya ingat, ketika masa masa pandemi menerjang dengan keras pada tahun awal kejadian. Saat itu saya sedang di cafe saya yang kecil di sekitar Seminyak, Bali; karena kosong, jadi saya sedang santai duduk termenung sendirian. Tiba tiba datang seorang ibu, naik motor mendorong motornya dan parkir di pinggir jalan; ibu itu datang dan saya sapa, sambil bertanya ada yang bisa dibantu? dengan kata kata yang terdengar gelisah, ibu itu berkata butuh uang untuk beli bensin motor dan susu anak, jika ada pekerjaan dia mau bekerja sekedar agar bisa memenuhi kebutuhannya hari itu.

Mendengar itu, melihat keadaan ibu yang mendorong motornya; saya bilang, saya cek dulu ada berapa... lalu saya ambil uang 100.000 rupiah yang ada di dompet, dan memberikan ke ibu itu; saya berikan ke ibu itu dengan cuma cuma, tidak perlu bekerja karena memang tidak ada yang bisa dikerjakan, karena cafe juga sepi. Seketika ibu itu menangis terharu, dan berterima kasih, memberi doa dan akhirnya melanjutkan perjalanan. Yang mengejutkan saat itu adalah, bagaimana ibu itu menangis, padahal bagi saya uang tersebut adalah hal yang kecil dan bisa saya berikan...

Dampaknya sangat besar kepada ibu itu, karena yang saya lakukan pada objek, waktu dan tempat yang tepat. Bukankah begitu?

Sudah pernah mendengar tentang NPD, masalah mental berat Narssicistic Personality Disorder? adalah masalah kelainan kejiwaan yang sekarang ini sedang populer di bahas di sosial media. Kebetulan saya sudah bertemu, mengalami dan merasakan bertemu orang NPD. Apakah baik kepada NPD perlu?

[menurut Siloam hospital, NPD adalah gangguan mental dimana pengidapnya menganggap dirinya lebih baik dan lebih penting daripada orang lain, sehingga orang lain harus mengagumi, mencintai, dan membanggakannya. Salah satu gejalanya adalah, melakukan segala cara agar kemauan dirinya terwujud, tanpa peduli orang lain / rendah atau tanpa empati].

Jika mengetahui sesuatu akan membawa celaka, apakah kita perlu mendekatkan diri dengan tujuan "baik"? atau kita sebaiknya menghindar?

Lalu, bagaimana agar kebaikan benar benar baik? tepat sasaran?

Mengacu pada apa yang sudah saya sampaikan singkat diatas, ada 1 hal yang sering kali terlewatkan yaitu BIJAK. Kebijaksanaan adalah perlu agar kebaikan bisa tepat sasaran dan benar benar membari manfaat, baik kepada yang menerima kebaikan juga baik / bermanfaat bagi kita yang melakukan kebaikan tersebut.

Kebijaksanaan bisa kita bayangkan seperti "senter" yang mengarahkan kita ke jalan yang benar, ketika dalam kegelapan. Semakin baik "senter" kita, semakin mudah kita "melihat" jalan yang akan kita lalui.

Lebih baik memberikan pancing, daripada memberikan ikan?

Pernah mendengar kata kata diatas? maksudnya adalah lebih baik memberikan alat / ilmu yang bermanfaat bagi seseorang dalam menjalani hidup ini; daripada terus memberikan "kemudahan" yang dapat membuat seseorang ketergantungan pada bantuan/hanya bermanfaat sesaat. Ini juga adalah contoh menggunakan kebijaksanaan dalam berbuat baik.

Jika kita mengetahui seseorang sering sekali dibantu, dan nampak terbiasa dengan bantuan; bahkan sudah tidak merasa sungkan untuk minta bantuan... kemungkinan orang tersebut sudah ketagihan dengan bantuan, karena selalu dibantu / diberikan "ikan"; apakah kita masih harus membantu? mungkin kita bisa tawarkan hal lain yang lebih bermanfaat?

Sabtu, 17 Februari 2024

, ,

Manipulasi, Cuci Otak, atau Sekedar bodoh ...

Setelah diskusi dengan psikolog, dibicarakan bahwa bagaimana seseorang bisa terkena manipulasi; penyebab utama seseorang termakan manipulasi adalah perasaan, perasaan yang telalu besar, kebencian yang membara, cinta yang terlalu besar, sayang yang bukan main, serakah yang luar biasa... hal hal seperti ini membuat logika hilang, dan seseorang bertindak sesuai perasaan yang bergelora di hatinya.

Mendengar hal diatas, saya menyadari bahwa hal ini jarang sekali dibahas. Bahkan saya sempat melihat dan mengalami sendiri ketika orang dekat saya sangat sangat percaya pada seorang NPD, bahkan saudara sendiri bisa dibuang, hubungan yang sudah ada dari lahir; mengerikan... kata itu yang ada di hati saya.

Manipulasi tidak sekedar tipu muslihat, tapi keahlian dalam komunikasi - mengubah nada bicara, mengubah penekanan dalam berbicara, mengurangi kata, menambahkan kata, membuat ambigu, bahkan hanya mengubah jeda koma ketika berbicara pun dapat menyebabkan informasi yang diterima berubah arti / lawan bicara / target salah informasi. Lebih dalam lagi manipulasi bahkan bisa mempermainkan perasaan seseorang, tidak hanya salah informasi / salah tangkap informasi, namun manipulasi bahkan bisa mempermainkan perasaan seseorang sehingga merasa tertentu, seperti cinta yang membara, kebencian yang luar biasa, sungguh sungguh kompleks.

Jika seseorang sudah dimanipulasi terlalu lama dan terlalu dalam (manipulasi dengan informasi pribadi yang bersifat sangat sangat dalam), hasilnya bahkan bisa seperti orang yang sudah dicuci otak, melupakan hal hal yang sudah diketahui selama hidup, bersikap acuh terhadap pengalaman hidupnya, ilmu yang sudah dipelajari, dan lainnya.

Berbicara mengenai manipulasi membuat saya teringat akan cuci otak, bagaimana teroris mengumpulkan orang orang di pedesaan, dan di "cuci otak" tidak hanya mempermainkan perasaan bahkan logika yang dimasukkan pun adalah logika yang salah.Sehingga manusia bisa menjadi semacam "robot" yang rela untuk bunuh diri, seolah olah hidup ini hanya mainan saja...

Manipulasi, cuci otak atau sekedar bodoh saja... kita harus ingat betapa pentingnya pikiran manusia ini, betapa canggihnya, dan betapa rapuhnya pikiran ketika tidak dalam kondisi baik; hal benar menjadi salah, menjadi bingung antara kenyataan dan imajinasi / khayalan, menjadi seperti robot atau zombie yang tidak berguna. Dalam ajaran Buddha sendiri ada disebutkan :
"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk,..."

tulisan singkat saya ini, ingin saya akhiri dengan ajakan, mari kita belajar untuk berpikir "benar" karena bahkan baik-pun bisa menjadi salah; kebijaksanaan diperlukan agar bisa berpikir benar, dengan demikian ucapan kita akan menjadi benar, dan tindakan tindakan yang kita lakukan akan benar, akhirnya hidup kita dikelilingi kebenaran. 

Sabtu, 03 Februari 2024

3 bulan pemulihan, pasca operasi tumor otak

Sekarang sekitar 2 bulan lebih, hampir 3 bulan; dalam perjalanan, jika ada yang tahu saya baru operasi tumor otak, banyak yang heran karena nampak sehat, rambut tumbuh tebal, badan mulai gemuk... untuk ini saya rasa, saya beruntung karena memiliki tubuh yang fit, rambut saya tebal karena dari kecil dirawat;

Yang utama, menjadi pendorong kesembuhan saya; rasanya karena saya dari kecil rajin olah raga, sehingga memiliki tubuh yang fit, sehat, ini yang menjadi penyebab utama tubuh saya cepat pulih. Bahkan dengan tumor yang cukup besar, yaitu 5-6cm.

Selesai Operasi

Kita mulai dari tahap paling awal, setelah operasi; apa yang terjadi? hal yang paling saya ingat adalah, saya merasa sangat sangat sedih, karena beberapa hal

1. ketika di ICU, banyak kesedihan yang saya dengar... ada 2 pasien meninggal, ada keluarga yang menangis, lalu pasien yang sedih, dll; kesedihan ini ter-rekam di memori saya, apalagi saya dalam keadaan habis operasi besar.

2. saya sudah mengalami sakit selama 1 tahun, jadi kondisi jasmani dan pikiran tidak sehat; untuk pikiran sebelum operasi tentunya sudah sedih dan depresi.

3. setelah operasi, badan saya sangat sangat lemah; semua otot tidak terasa; bahkan setiap kali saya tidur, tubuh ini terasa kosong dan lemah, hanya terasa nafas dan yang lainnya kosong, ini membuat saya bingung akan apa yang terjadi, karena jujur saja, saya belum pernah merasakan tubuh saya lemah seperti ini.

4. otot yang lemah, tidak hanya otot besar, bahkan otot di lambung dan tengorokan juga lemah; menyebabkan masalah. setiap kali saya tidur--asam lambung naik, keluar dari mulut. Saya hampir tidak tidur setelah operasi, tidur saya baru membaik sekitar 3 minggu setelah operasi, ketika pikiran semakin jernih, tubuh semakin kuat.

Masalah diwajah

Tumor dikepala saya, sebesar 5-6cm terletak dibelakang mata, kiri; dan karena lokasinya dan ukurannya, ternyata mata dan wajah saya sebelah kiri saya sudah terganggu karena tumor; termasuk jug di bibir kiri.

Setelah operasi, wajah di sebelah kiri, nampak turun dan tidak dapat bergerak, hal ini nampak sangat jelas dilihat dari foto; yang paling tidak nyaman adalah mata yang tidak dapat berkedip dan bibir yang turun kebawah.

Saya tersadar betapa besar ego manusia, memiliki impian impian tinggi; padahal ketika hal hal kecil hilang, seperti kemampuan berkedip dan bibir yang turun, memberi dampak besar dalam hidup; konsentrasi dan kelincahan terganggu.

Sejak awal saya sudah menjalani fisioterapi, dengan listrik untuk mengaktifkan otot - otot dan syaraf yang mati; lalu setelah 2x fisio listrik saya memutuskan untuk melanjutkan fisio di tempat kenalan, yang fokus pada pijatan dan latihan otot otot dan syaraf syaraf, tanpa listrik. Sekarang wajah sudah nampak lebih normal, dan otot otot sudah sedikit terasa di wajah, namun masih belum bergerak normal.

Stamina dan kehidupan sehari hari

Secara umum, yang paling kelihatan adalah tubuh menjadi lemah, stamina saya sangat cepat jatuh / turun. Untung saja saya memiliki istri yang sigap dan cepat bereaksi; langsung membantu saya dalam keseharian, jika tidak --- banyak hal yang terpaksa hilang dalam hidup saya, khususnya bisnis, karena kondisi stamina saya benar benar jauh dari awal (sebelum operasi).

Dalam kehidupan sehari hari, saya menjalani hari semampu saya, sekuat saya, sambil terus berdoa.

Setelah mengalami semua masalah ini, saya menyadari bahwa dalam hidup manusia harus terus bergerak dan berusaha, dan tidak perlu berharap; cukup merespon apa yang terjadi... semua adalah sebab akibat, dari setiap entitas di dunia ini, yang saling bertemu, berbenturan, betabrakan, saling memberikan sebab, saling memberikan akibat.

Ini yang bisa saya bagikan untuk saat ini, sambil saya terus terapi, sambil terus berjuang, sambil terus berdoa....





Jumat, 05 Januari 2024

,

Gejala tumor otak, yang saya alami

Setiap orang yang bertemu saya, pasca operasi angkat tumor otak; sering kali bertanya, apa gejalanya? bagaimana bisa ketahuan? wajar, karena tumor bukan suatu penyakit umum yang mudah dikenali. Tumor seperti benalu yang tumbuh didalam badan kita; di kasus saya, tumbuh diotak.

Dari yang saya ingat, kesehatan saya menurun dari awal tahun 2023. Saya, yang memiliki tubuh cukup kuat dan sehat (karena waktu muda, atlet renang) jarang sakit dan memiliki daya tahan tubuh yang baik; karena itu ketika tubuh saya melemah, saya menyadari kalau saya mudah lelah. Perjalanan / pekerjaan yang biasa saya selesaikan dengan mudah, tiba tiba -- setengah perjalanan / setengah pekerjaan, saya sudah merasa nafas berat dan lelah.

Kebetulan pada tahun 2023, cuaca di Bali berbeda dari biasanya, panas dan kering dengan matahari yang membara di katulistiwa. Adik saya yang pernah tinggal di Australia mengatakan bahwa cuacanya mirip dengan Australia. Karena alasan ini saya mengira kalau badan saya cepat lelah karena panas, dan karena umur (saya masuk umur 39 tahun lalu).

Selain itu, mata saya sebelah kiri juga tiba tiba merasa "silau" melihat cahaya. Ketika ini terjadi saya mengira masalahnya adalah kelainan mata. Hingga perlahan dari telinga, mata pipi kiri juga sedikit terasa kebas. Sebagai catatan tambahan, saya masih tidak berobat karena kondisi saat itu saya sedang dalam kondisi sulit di usaha saya yang sempat kena tipu, dan saya harus berjuang agar tidak bangkrut; selain itu saya orang yang jarang sakit, jadi saya terbiasa memaksakan diri.

Gejala lainnya, yang paling terasa adalah kondisi telinga kiri saya, yang perlahan semakin lemah dan perlahan tidak mendengar sama sekali.Karena bodohnya saya, kondisi telinga ini juga saya asumsi karena masalah THT dan tidak "genting" / darurat.


Kondisi fisik saya di pertengahan tahun 2023 mulai menurun dengan cepat, hingga akhirnya sering muntah, sulit bergerak, dan terpaksa saya sering tidur. Hal ini, ditambah lagi kondisi bisnis yang buruk, akhirnya membuat saya depresi dan terpuruk jauh. Pada akhirnya sebelum ke UGD, kondisi saya sudah tidak bisa berjalan, dan sangat lemah.

Begitulah perjalanan saya menurun, terpuruk di 2023. Secara umum sudah saya curhat di artikel lain-- disini... semoga bisa menjadi bahan informasi, agar yang baca bisa menjaga kesehatannya; jangan terlalu cuek seperti saya.












Rabu, 06 Desember 2023

ABHINHAPACCAVEKKHANA PATHA



Jara dhammomhi.

Jarang anatito.

Byadhidhammomhi.

Byadhing anatito.

Marana dhammomhi.

Maranang anatito.

Sabbehi me piyehi manapehi nanabhawo winabhawo.


Kammassakomhi,

Kammadayado,

Kammayoni,

Kammabandhu,

Kammapatisarano,

Yang kammang karissami.

Kalyanang wa papakang wa,

Tassa dayado bhawissami.


Ewang amhehi abhinhang paccawekkhitabbang.

--------------- yang artinya -------------

Aku wajar mengalami usia tua.

Aku takkan mampu menghindari usia tua.


Aku wajar menyandang penyakit.

Aku takkan mampu menghindari penyakit.


Aku wajar mengalami kematian.

Aku takkan mampu menghindari kematian.


Segala milikku yang kucintai dan kusenangi wajar berubah, wajar terpisah dariku.


Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri,

terwarisi oleh perbuatanku sendiri,

lahir dari perbuatanku sendiri,

berkerabat dengan perbuatanku sendiri,

bergantung pada perbuatanku sendiri.

Perbuatan apapun yang akan kulakukan,

baik atau pun buruk;

perbuatan itulah yang akan kuwarisi.



Demikian hendaknya kerap kali kita renungkan.